aku hanya seonggok daging yang punya nama
itu lah aku, tak perduli kau menanggapku apa
ketua OSIS, ketua PIK-R, pradani itu bukan aku yang sesungguhnya.
ketegasan hanya topeng
yang menopengi kemarahan.
kemarahan pada kedisiplinan kemarahan kepada aturan-aturan yang mengekangku.
hingga akhirnya kebosanan itu mencapai puncaknya.
aku mulai berontak..
menginjak-injak semua keteraturan selama ini.
tak terlalu parah bagi mereka yang sudah terbiasa.
hanya menjalin kasih dengan orang yang paling aku cintai.
dan itupun aku tutup-tutupi biar orang tetap terbutakan dengan topengku.
topeng yang akan menjadikanku seperti yg aku impikan.
dan kini aku sadar bahwa aku hanyalah seorang pemimpi
suatu saat..
jam kosong aku keluar sekolah.
aku tak sendiri ditemani seorang teman hanya saja dia sudah terkenal kenakalannya.
aku hanya diam sibuk dengan gadgetku.
tak kusangka kekasihku lewat dan dia berhenti menghampiri.
aku hanya diam dia duduk disampingku. membiarkan mereka saling borkoceh saut-menyaut.
dan saat-saat ketakutanku itu terjadi..
wali kelasku juga teman dan sudah kuanggap kakakku sendiri itu sudah berada di depanku berkacak pinggang menatap tajam soalah-olah aku ini buruannya. kuberjalan masuk kelas aku marah pada diriku sendiri pada lingkunganku pada norma yg sudah biasa dilanggar tapi sangat asing bagiku.
dan saat itu semua amarah tertuju padaku. solah-olah aku ini pembunuh yang harus diadili. air mataku tak bisa mengalir aku dipenuhi kebingungan atas diriku sendiri.
lingkungan yang selalu mengawasiku.
esoknya saat jam wali kelasku
seisi kelas disidang atas kesalahanku.
dan kata-kata itu pun muncul "kamu yang saya kenal tidak seperti ini, kamu bukan dirimu"
tangis saat itu pecah. aku tak bisa mengendalikan diri. hingga. pergantian usai pecahan air maata masih terus mengalir. hingga mata ini terbuka kembali aku sadar apapun yang aku lakukan itu adalah aku. karena apa yang aku perbuat itu kemauanku. hasil pemikiranku. bukan kamu dan inilah aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar