Rabu, 17 Desember 2014

dialektika sepatu

Aku angkat tulisan ini dengan berbekal referensi tulisan Emha Ainun Najib (Cak Nun) dalam buku "DEMOKRASI LA RAIBA FIH". Dalam salah satu bab, dibahas tentang sepatu Nabi Idris dan Sepatu orang Madura. Singkat kata, Dituliskan bahwa Nabi Idris sebelum turun ke Bumi, sengaja melepas sepatunya di pintu surga dan "Nyeker" untuk turun ke Bumi dengan pertimbangan Beliau masih punya simpanan sepatu jika suatu saat nanti harus kembali naik ke Swargaloka karena di surga tidak ada yang jualan sepatu dan beliau merasa sungkan jika terus-terusan minta ke Allah. Begitupun orang Madura yang dikisahkan ketika akan manaiki pesawat menuju Arab Saudi guna melaksanakan Darmawisata religi yang disebut Umroh, Orang Madura itu melepas sepatunya tepat dibawah tangga pesawat karena melihat lantai pesawat yang begitu bersih dan ketika sampai di Jedah, beliau kaget mendapati sepatunya hilang dan akhirnya seisi Bandara kena semprot. Nah, timbul pertanyaanku, muncul opini-opini pribadiku, terbitlah debat kusir antara aku dan pikiranku menganai apa sih sebenar-benarnya sepatu ini, kenapa Nabi Idris dan Orang Madura sama-sama melepas sepatunya untuk 2 hal yang jelas jauh berbeda. Beberapa waktu merenungi takdir apa yang Tuhan tuliskan di Lauhil Mahfidz kepada makhluk yang bernama sepatu ini? Dan akhirnya, Alhamdulillah aku tidak juga menemukan jawaban dari hal itu. Dengan ketidaktahuanku ini, maka sadarlah aku, bahwa ngurusin sepatu saja aku belum mampu, sudah dipaksa untuk berfikir tentang negara, pemerintah, kemanusiaan, demokrasi dan makhluk-makhluk canggih nan ghaib yang tidak bisa aku indera dengan panca-inderaku itu.

Aku mulai mencoba merumuskan beberapa pertanyaan yang mungkin tak akan pernah aku temukan jawaban yang memuaskan tentang teori per-sepatu-an itu. Ya memang pada dasarnya aku hanya manusia biasa yang tidak akan pernah bisa puas dengan satu dua jawaban. Tapi ya kalo ditambahin, aku ini sebenarnya ya enggak biasa-biasa amat, bisa di bawah biasa, bisa di atas biasa, atau mungkin juga di luar biasa. entah, monggo kamu sendiri yang merumuskan tentang aku ini seperti apa. Kita sendiri telah memiliki kadar ketidak-serasian antara satu dengan yang lain dalam memaknai konsep "Biasa" itu seperti apa, semua tergantung takaran kemampuan yang telah Tuhan titipkan kepada dirimu masing-masing.

Kembali ke Sepatu tadi. Pertanyaan pertamanya adalah, "Gunanya sepatu itu untuk apa?". "Apakah benar kegunaan sepatu itu untuk melindungi kaki?". "Melindungi kaki dari apa? Dari kerikil-kerikil, pecahan beling, Duri dari tanaman-tanaman, Gigitan ular berbisa, atau hanya melindungi kaki agar tidak kotor?". Kalau memang seperti itu fungsi sepatu, cobalah lihat sekelilingmu, bagaimana dengan orang yang menggunakan sepatu di dalam ruangan berlantai keramik marmer bersih mulus seperti di kantor-kantor swasta atau pemerintah, di Gedung DPR/MPR, bahkan di Istana Negara? Masih perlukah kaki kita dilindungi sepatu meskipun kita di tempat yang sama sekali tidak bersahabat bagi kerikil-kerikil, pecahan beling, Duri dari tanaman-tanaman, ular berbisa bahakan debu-pun tidak ada? Ketika penjelasan tentang fungsi sepatu-pun belum bisa didialogkan, muncul lagi sebuah peringatan, kalo pake sepatu jangan lupa memakai kaos kaki agar kakimu tidak lecet-lecet. Loh, ini bagaimana lagi? Sebenarnya sepatu itu melindungi kaki atau mengancam kaki hingga diperlukan pihak ketiga yang bernama kaos kaki? Aku semakin bingung dengan makhluk sepatu ini.

Kucoba lebih jauh lagi menelisik kedalam si sepatu ini. Akhirnya muncul pertanyaan, sepatu ini urusan agama atau budaya? Kalau kita hendak memasuki masjid guna menunaikan sholat, pasti ada papan tulisan yang berisi "Suci, Harap lepas sepatu Anda". Tapi kalo kita mau ketemu Gubernur, kalau terlalu jauh ya kalau mau sekolah saja, kita justru tidak boleh tidak bersepatu. Ada sebuah paradoks disini, Sepatu yang kita pakai sebagai "yang katanya" melindungi kaki, justru merusak kesucian masjid, namun dalam hal lain, ketika kita mencari ilmu yang juga tak kalah sucinya dengan ibadah di ruang-ruang kelas yang lantainya serupa dengan lantai masjid, kita justru wajib bersepatu, ini bagaimana? Semakin buntu otakku dan pikiranku-pun sepertinya mulai menyiapkan aksi demonstrasi, menuntut agar aku berhenti mengeksploitasi mereka. Di tengah demonstrasi kaum pikiran di dalam diriku, aku menemukan lagi sebuah kenyataan yang semakin lebih pelik dan.. duh Gusti...

Sebenarnya, posisi sepatu itu memuliakan yang kita temui atau sebaliknya? memuliakan kita sebagai user atau sebaliknya? Jika kita menghadap Tuhan, kan harus sangat sopan, menutup aurat, bersih, suci, kalo bisa yang pakai wewangian, kan gitu sebagai takaran kita memuliakan Tuhan. Nah, tapi kalo kita "Nyeker" bertemu Presiden, kog malah dianggap menghina? tidak memiliki etika, tidak punya sopan santun, manusia primitif, kampungan, untung-untung tidak dikeroyok Paspampres dan dimasukkan ke Rumas Sakit karena dianggap gila. Kita memang telah kehilangan pandangan tentang sopan itu yang bagaimana, bersih itu bagaimana dan suci itu yang bagaiamana. Apakah bersih itu sama dengan suci? Apakah sopan adalah satu frasa dengan bersih atau dengan suci? Lebih sopan mana, bersepatu atau nyeker? Kalo salah satu ukuran sopan adalah bersepatu, maka ketika kita sholat berarti kita kurang sopan dong? Lalu Gimana dong dengan Nabi Adam? Rasulullah Muhammad SAW hingga Raja Agung Hayam Wuruk yang di dalam pikiranmu pakai bakiak saja sudah untung? Jika demikian, berarti kita lebih memuliakan Presiden daripada Tuhan? atau sebaliknya, kalo salah satu ukuran sopan itu tanpa sepatu, maka kita tidak benar-benar menghargai Presiden yang telah mengorbankan segalanya demi rakyat =meskipun ya enggak segala-galanya juga= dengan menjaga kesopanan kita.

Aturan mana yang kita sepakati tentang sepatu ini, Sepatu ini mengancam atau melindungi?, Urusan sopan atau tidak sepatu ini? hingga sepatu ini urusan agama atau budaya? bagaimana kita mengambil kesepakatan tentang sepatu ini tanpa membuang esensi keindahan kita sebagai makhluk terindah yang diciptakan Tuhan?

Ah, sudahlah.. Ngurusin sepatu saja masih nggak beres, mau sok-sok an berpikir tentang negara, pemerintah, kemanusiaan, demokrasi dan kebangsaan.


sumber: kak ossa ardofann gita s

ketika sahabat menjadi bangsat

ketika ego memeluk rapat tubuh ini
rasa capek dan amarah menguasai diri
sahabat menjadi bangsat
berbaris rapi bersendekap dalam sunyi
cukup bagi mereka menjadi penonton
dan aku yang harus memainkan sinetron
atau kita semua akan malu
pernahkah hal itu terlintas di otak busukmu itu.?

ketika adegan ku perankan
dan kau.. sahabat bangsat mencaci-maki
tak sadarkah kau aku ini membelamu
aku ini yang menanggung kemaluanmu kepada mereka
masih kurangkah penderitaanku hingga engkau mencaci-maki aku
tak sadarkah kau..

saat kau berceloteh tentang kesalahanku didepan mata mereka
aku tau aku tak bisa tapi aku berani maju untuk menutupi harga dirimu wahai sahabat bangsatku

tak adakah keberanianmu sahabat bangsatku
sadarkah engkau bahwa celotehanmu kepadaku telah memalukan dirimu sendiri yang telah berusaha aku tutup-tutupi

kau sahabat bangsat pemakai topeng
tak punya harga diri
tak tahu terimakasih
banggalah menjadi penonton selamanya

kami dan kalian

kalian tinggal dalam rumah kebodohan
karena dalam rumah ini
tiada cermin kaca buat memandang jiwa
kami menghela nafas panjang
dan dari keluhan ini
terbitlah bisikan bunga-bunga
dan gemerisik daunan dan bisikan anak sungai

kami hiba akan kekerdilaanmu setara kebencian kalian
akan kejayaan kami; antara rasa hiba kami dan kebencian kalian
sang waktu berhenti tertahan

kami menghampirimu sebagai teman
tapi kalian menyerang kami sebagai musuh
antara persahabatan..
kami dan permusuhan kalian
terbentang jurang dalam yang dialiri darah dan air mata
~khalil Gibran

Senin, 15 Desember 2014

takut

aku bukan tak mau bicara
tapi aku tak sanggup bicara
aku terlalu takut untuk bicara
aku takut menyakitinya
aku takut dia menangis karenaku
ataupun dia menangis karenaku

aku bukan tak bisa bicara
tapi aku tak mampu bersuara
aku terlalu khawatir hatiku akan terluka
aku terlalu khawatir aku akan membuka lukaku lagi
aku takut ia tahu apa yang aku rasakan
aku pun takut kau kecewa atas keegoisanku

aku bukan tak mau jujur
tapi aku terlalu malu untuk jujur
aku malu pada diriku yang malu
aku malu pada hatiku yang rapuh
aku takut ia malu karenaku
akupun takut kau tahu kalau aku malu padamu
aku bukan takut akan cinta
tapi aku takut cinta ini melukaiku

aku takut kau tahu
kalau aku tak bisa berhenti mencintaimu

sedih

buku menangis
kala para pembaca
yang baru mencicipi sedikit ilmu sudah merasa pintar dari tuhannya

lalu berusaha merubah aturan pada kitab suci
dan mencoba membuat hukum sendiri
yang dirasanya lebih manusiawi
yang dianggapnya sesui jaman kiwari
padahal dia hanya berbekal sejimpit ilmu
tanpa bekal pengetahuan agama yang memadai
beraninya buat aturan sendiri
menganggap tuhan hanya tahu masa lalu
dan ayat-ayat sucinya tidak sesuai masa kini

jadilah agama ditafsirkan sekehendak hati
tanpa landasan yang jelas untuk dikaji
malapetaka bagi seluruh negeri
bika ajaran mereka diikuti

Minggu, 14 Desember 2014

heart quake

aku hanya seonggok daging yang punya nama
itu lah aku, tak perduli kau menanggapku apa
ketua OSIS, ketua PIK-R, pradani itu bukan aku yang sesungguhnya.

ketegasan hanya topeng
yang menopengi kemarahan.
kemarahan pada kedisiplinan kemarahan kepada aturan-aturan yang mengekangku.
hingga akhirnya kebosanan itu mencapai puncaknya.
aku mulai berontak..
menginjak-injak semua keteraturan selama ini.
tak terlalu parah bagi mereka yang sudah terbiasa.
hanya menjalin kasih dengan orang yang paling aku cintai.
dan itupun aku tutup-tutupi biar orang tetap terbutakan dengan topengku.
topeng yang akan menjadikanku seperti yg aku impikan.

dan kini aku sadar bahwa aku hanyalah seorang pemimpi
suatu saat..
jam kosong aku keluar sekolah.
aku tak sendiri ditemani seorang teman hanya saja dia sudah terkenal kenakalannya.
aku hanya diam sibuk dengan gadgetku.
tak kusangka kekasihku lewat dan dia berhenti menghampiri.
aku hanya diam dia duduk disampingku. membiarkan mereka saling borkoceh saut-menyaut.
dan saat-saat ketakutanku itu terjadi..

wali kelasku juga teman dan sudah kuanggap kakakku sendiri itu sudah berada di depanku berkacak pinggang menatap tajam soalah-olah aku ini buruannya. kuberjalan masuk kelas aku marah pada diriku sendiri pada lingkunganku pada norma yg sudah biasa dilanggar tapi sangat asing bagiku.
dan saat itu semua amarah tertuju padaku. solah-olah aku ini pembunuh yang harus diadili. air mataku tak bisa mengalir aku dipenuhi kebingungan atas diriku sendiri.
lingkungan yang selalu mengawasiku.

esoknya saat jam wali kelasku
seisi kelas disidang atas kesalahanku.
dan kata-kata itu pun muncul "kamu yang saya kenal tidak seperti ini, kamu bukan dirimu"
tangis saat itu pecah. aku tak bisa mengendalikan diri. hingga. pergantian usai pecahan air maata masih terus mengalir. hingga mata ini terbuka kembali aku sadar apapun yang aku lakukan itu adalah aku. karena apa yang aku perbuat itu kemauanku. hasil pemikiranku. bukan kamu dan inilah aku.

bangunlah sahabat

Saat dunia perkuliahan tak lagi menjanjikan lulusan yang siap bekerja, lalu apa yang telah kita siapkan?
Saat kenaikan harga BBM yang berimbas pada kenaikan semua harga. Lalu masihkah kita mau membebani orang tua?
Saat tahun 2015 Masyarakat Ekonomi Asia dimulai, akankah kita jadi pemain atau justru penonton yang diam tak berdaya?
Saat sahabat remaja kita hari ini dicekoki tontonan yang merusak juga permainan yang melenakan.
Lalu apa yang bisa kita perbuat?
Saat di depan mata kita terpampang jelas kemaksiatan dan penistaan agama.
Lalu apa yang telah kita lakukan?


Sahabatku, tahun-tahun mendatang
tidaklah menjamin hidup kita semakin mudah.
Tak ada juga yang menjamin ekonomi keluarga kita semakin sejahtera.
Namun, jika kita serius untuk segera bangun dari tidur panjang,
bangkit dari mimpi kosong akan kemudahan hidup.
Lalu mengukir karya dengan apa yang kita bisa,
InsyaAllah masih ada harapan untuk masa yang akan datang.


"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada alllah, sesungguhnya allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." ( QS. Al hasyr: 18 )


Allah tidak menjamin hidup kita jauh dari petir dan hujan badai,
namun percayalah setelah hujan ada pelangi di hadapan.


Allah tidak menjamin hidup kita jauh dari musibah dan kesedihan.
namun percayalah ujian meningkatkan kelas kita di sisiNya.


Jangan minta Allah ringankan beban hidup.
Namun mintalah pada Allah pundak yang kuat untuk memikul amanah. Kaki yang siap melangkah lebih jauh, tangan yang siap beramal lebih banyak, juga hati yang lebih lapang menerima takdirNya.


Semangat Sahabatku, moga hidupmu berkah dan mendapat keridhaannya..
aamiin


Sabtu, 13 Desember 2014

isakan sebuah senyum

dibalik senyum ada kecewa...
dibalik senyum ada rasa yang menyayat hati..
dibalik senyum pulalah tersimpan kekuatan..
kadang senyum membuahkan bulir air mata..
kecurigaan atas kebohongan
coba tuk hadapi hanya dengan senyum..
meski itu menyakitkan..


sulit untukku tuk percaya padamu lagi..
sadarkah kau saat kau tertawa ada orang disisimu yang menangis.
sadarkah engkau saat kau memikirkan orang lain ada orang disisimu yang selalu memikirkanmu, mendo'akanmu selalu menyayangimu sedangkan orang yang kamu fikirkan itu tak sedikitpun menghiraukanmu.


pantaskah engkau..
pantaskah engkau menjadi pendamping orang yang sangat setia padamu sedangkan kau berbuat sebaliknya.?


saat senyum tak lagi bicara
dahan tak mampu lagi menahan terjangan badai
adakah tangismu untukku.?
saat air mata itu mengalir pernahkah kau menyentuhnya.?
merasakan setiap bulir pengorbanan
pernahkah kau memelukku menggenggam hati yang berteriak tuk tak pergi darimu
hanya dalam setiap isakan luka yang menganga


meninggalkan isakan dari hati lembut seorang wanita yang tak mampu lagi dihadapi dengan sebuah senyum kekecewaan.
~andriawan